Demo di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (30/8) ricuh. Aksi ini diikuti mahasiswa, masyarakat hingga pengemudi ojek online (ojol).
Kericuhan pertama terjadi di depan Mapolres Cirebon. Polisi yang berjaga menembakkan gas air mata ke arah massa.
Massa juga membakar ban di tengah Jalan Dewi Sartika itu.
“Kami datang ke sini bukan untuk mencari ribut. Kami hanya menuntut perubahan, menghentikan segala bentuk kekerasan aparat terhadap rakyat. Polresta harus mendengar jeritan kami,” teriak salah satu koordinator aksi melalui pengeras suara.
Kantor DPRD Kabupaten Cirebon Dibakar
Massa lalu bergerak ke arah kantor DPRD Kabupaten Cirebon. Di sana, suasana semakin memanas usai sejumlah masa masuk ke dalam gedung.
Mereka melempari kaca dengan batu dan kayu. Tak lama kemudian, api muncul dari salah satu sisi gedung.
Kursi, meja, hingga berkas di ruang sidang utama ludes terbakar. Asap hitam pekat membumbung tinggi, terlihat dari berbagai sudut.
“Asalnya hanya kericuhan, lemparan batu dan botol. Tidak lama, saya lihat api mulai muncul dari sisi samping gedung. Warga langsung berhamburan, takut api merembet,” kata Rohman (42), warga sekitar.
Petugas pemadam kebakaran yang datang ke lokasi sempat kewalahan. Hembusan angin membuat api cepat merambat ke hampir seluruh bagian gedung.
Sementara itu, massa perlahan membubarkan diri setelah merasa puas dengan aksi anarkis tersebut. Yang tersisa hanya puing-puing gedung DPRD yang porak-poranda.
Hingga pukul 14.00 WIB, jendela kaca tampak pecah, tembok hitam terbakar, dan bau hangus masih menyeruak.
Demonstrasi merupakan hak warga negara dalam berdemokrasi. Untuk kepentingan bersama, sebaiknya demonstrasi dilakukan secara damai tanpa aksi penjarahan dan perusakan fasilitas publik.