Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Begitulah yang terjadi pada Muhammad Farhan Andi Pratama, dokter dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), yang baru dilantik dan diambil sumpahnya, pada Kamis (28/8) lalu. Kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai dokter berperan penting dalam hidupnya.
Bukan hanya karena usaha mereka dalam membesarkan anak-anaknya, namun kerja keras mereka sebagai dokter juga memiliki pengaruh terhadap keputusan pria yang akrab disapa Farhan itu.
Laki-laki kelahiran, Surabaya 5 Februari ini mengakui dirinya terlahir dari keluarga dokter, orang tuanya dokter, dua adiknya kini juga kuliah di kedokteran.
"Ayah bertahun-tahun harus beda kota sama keluarga karena penugasan sebagai dokter spesialis bedah, terus bunda juga setiap hari harus perjalanan PP (pulang-pergi, red) sekitar satu jam buat praktik di puskesmas," ungkapnya.
Perjuangan itu memotivasi Farhan untuk menjadi dokter saat dewasa. Alasan lain yang menggugahnya semakin kuat ingin menjadi dokter, karena ayah dan bundanya menjadi orang pertama dalam keluarga besar masing-masing yang menjadi dokter.
Kehadiran mereka yang begitu diandalkan oleh keluarga juga menjadi pemantiknya.
Dokter bukanlah profesi yang mudah. Sejak memutuskan ingin menjadi dokter, pria kelahiran tahun 2000 ini selalu tekun dalam belajar. Menjadikannya sebagai anak yang stabil dalam prestasi akademiknya.
Baginya kehadiran orang tuanya begitu berpengaruh dalam perjalanannya. Namun perjalanannya juga tak semudah itu, 2014 setelah kembali dari mudik lebaran bunda Farhan harus masuk rumah sakit karena diabetes.
"Harus operasi besok paginya, tapi harus berpulang malam sebelumnya," tuturnya.
Farhan yang kala itu masih sekolah menengah pertama (SMP) merasa bingung bagaimana harus menata hati. Kehilangan itu begitu tiba-tiba, namun dukungan dari keluarga dan kerabatnya bisa membuatnya lebih ikhlas. Cita-citanya menjadi dokter makin teguh, semakin yakin ingin menyelamatkan nyawa orang di luar sana.
Dukungan sosok ibu juga kembali hadir dalam hidup Farhan, setelah ayahnya menikah lagi pada 2021 dengan seorang dokter spesialis obgyn. Pengetahuannya soal kedokteran dari perspektif lain juga bertambah.
Pada pelantikan dan sumpah dokter ke-13 Unusa, Farhan berhasil menjadi terbaik ketiga dalam perolehan nilai UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter).
"Itu menjadi bukti lain dari ketekunan dan ketulusannya terhadap profesi dokter. Setelah melalui internship rencananya ingin lanjut spesialis bedah," bebernya.
Alasannya mengambil spesialis dokter bedah karena menurutnya spesialisasi itu bisa segala hal. Serta, karena ayahnya yang seorang dokter spesialis bedah di RSJ Radjiman Lawang sehingga tertarik untuk melanjutkan cita-cita tersebut.
"Dokter itu kita dapat menjadi perpanjangan tangan dari Tuhan untuk bisa bermanfaat bagi sesama manusia, tentunya karena kesembuhan itu berasal dari Allah dan kita menjadi perantara," tutur Farhan.
"Menjadi dokter memang tidak mudah, perlu banyak perjuangan dan tiap orang punya jalannya masing-masing. Jadi tidak perlu khawatir kamu dapat dokter penguji killer, tanggung jawab lebih, teman-teman yang membuat susah saat pendidikan. Itu semua ada prosesnya dan kamu akan belajar lebih baik lagi kedepannya," jelas Farhan.