
Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, mengakui kendala kekurangan peralatan saat evakuasi WN Brasil, Juliana De Souza Pereira Marins, yang jatuh dan tewas di Gunung Rinjani.
Kendala ini ia ketahui usai mengumpulkan para relawan rescuer dan guide yang membantu evakuasi, termasuk Agam Rinjani pagi tadi.
“Ada tadi mengatakan, ada equipment katanya tuh, tempat pemegangnya tuh, udah longgar karena sering dipakai. Kepleset sedikit mereka hilang. Tapi sekali lagi ya, mudah-mudahan ini jadi pelajaran untuk semua pihak,” ujarnya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Rabu (2/7).
Berbagai perbaikan pun akan dilakukan oleh Kemenhut demi keselamatan pendaki ke depannya. Salah satunya adalah membangun shelter di Kawah Pelawangan, Rinjani yang memiliki tinggi 2.639 MDPL.
Shelter itu akan menyimpan berbagai alat keselamatan dan penyelamatan. Kemenhut bersama teman-teman rescuer dan guide di Rinjani sudah menginventarisasi peralatan apa saja yang harus ada di shelter.
“Tadi sudah diinventarisasi, minimum peralatan yang diperlukan untuk memprevensi terjadinya kecelakaan. Misalkan tadi dibutuhkan tali minimum 2.000 meter yang disimpan tadi di Pelawangan, satu lagi saya simpan di Sembalun atau di danau,” ucap dia saat rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (2/7).
Lalu, Kemenhut juga akan memperbaiki sarana dan prasarana (Sarpras). Sarpras yang menjadi perhatian Kemenhut adalah sign board tanda aman, hati-hati, dan bahaya. Menurutnya, sign board harus ditambah.
“Pertama, pemerintah tidak boleh antikritik. Sarana dan prasarana kita harus diperbaiki, sign board, di mana tempat yang berbahaya, mana yang sign board-nya merah, yang tidak boleh sama sekali dilalui, mana yang kuning hati-hati, atau yang hijau yang memang diperbolehkan,” tuturnya.

Selain itu, Kemenhut juga akan membentuk jalur baru di Rinjani yang berstandar pendakian internasional.
“Akan ada satu jalur selain jalur Sembalun yang akan dipergunakan untuk contoh pendakian dengan standar internasional, jadi sehingga nanti gunung lain, TN [Taman Nasional] lain bisa mencontoh,” ucapnya.
Juliana jatuh saat mendaki gunung Rinjani pada Sabtu (21/6). Saat pertama kali ditemukan posisinya menggunakan drone thermal, ia diduga masih hidup. Namun, saat tim SAR sampai di lokasinya yang sedalam 600 meter pada Selasa (24/6), Juliana dipastikan meninggal.
Proses evakuasinya menemui berbagai rintangan karena medan yang terjal dan cuaca buruk yang terjadi di Rinjani.