“Indonesia berkontribusi menekan harga pangan dunia, awalnya USD 460 per ton, sekarang USD 370 per ton. Nah kenaikan pangan kita tingkat dunia nomor 2 dunia. Brasil nomor 1, Indonesia nomor 2, ini yang tadi kembali ini harga pangan dunia, ini penurunan terjadi tajam,” kata Amran di kantor Kementan, Sabtu (30/8).
Berdasarkan data terbaru Food and Agriculture Organization (FAO) yang dipaparkan Amran, produksi beras Indonesia pada periode 2023/2024 sebesar 34,6 juta ton, turun tipis menjadi 34 juta ton pada 2024/2025, lalu diperkirakan meningkat ke 35,6 juta ton pada 2025/2026. Secara kumulatif, kenaikan produksi Indonesia mencapai 4,5 persen dalam tiga tahun.
Di tingkat global, Brasil berada di posisi teratas dengan kenaikan produksi beras hingga 14,7 persen, dari 6,8 juta ton pada 2023/2024 menjadi 8,3 juta ton pada 2025/2026.
Sementara itu, kata Amran, sejumlah negara produsen utama lain justru mencatat kenaikan yang jauh lebih kecil. Myanmar hanya naik 1,9 persen dalam periode yang sama, dari 17,2 juta ton menjadi 16,6 juta ton. Filipina mencatat kenaikan 1,6 persen, sementara Bangladesh naik 1,5 persen.
Amran menilai keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan pangan dalam negeri, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas harga pangan dunia.
“Artinya rakyat Indonesia berkontribusi pada penduduk dunia yang mengkonsumsi pangan khususnya beras,” ujar Amran.
Amran menuturkan capaian produksi beras tahun ini sangat berbeda dibandingkan kondisi tahun-tahun sebelumnya. Pada 2023, Indonesia masih mengimpor sekitar 7 juta ton beras dengan nilai hingga Rp 100 triliun termasuk jagung. Pada 2024, impor beras masih sekitar 4 juta ton. Sementara hingga akhir Agustus 2025, Indonesia tak melakukan impor beras sama sekali.
"Tahun ini Alhamdulillah sampai Agustus, masuk September sebentar lagi itu tidak ada impor, kemudian tahun lalu stok 1 juta ton, tahun ini adalah 4 juta ton,” ungkap Amran.
Mentan Amran Klaim Harga Beras RI Sudah Turun
Amran mengeklaim harga beras mulai menunjukkan tren penurunan di sejumlah wilayah. Berdasarkan laporan Satgas Pangan, pergerakan harga beras sudah turun di 32 provinsi.
“Tapi kita mau turunkan lagi. Bahkan 10 provinsi lebih rendah sekarang daripada pada saat puncak harga naik,” kata Amran.
Amran memastikan pemerintah tetap berhati-hati menjaga stabilitas harga beras. Menurutnya, meskipun penurunan harga menjadi kabar baik bagi konsumen, harga yang terlalu rendah justru bisa merugikan petani.
Untuk itu, pemerintah berupaya menyeimbangkan agar harga di tingkat konsumen tetap terjangkau, sementara petani juga memperoleh Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah sebesar Rp 6.500 per kg.
Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas, per 30 Agustus 2025 pukul 13.20 WIB, rerata harga beras medium Zona 1 berada di Rp 13.517 per kilogram (kg), masih terpantau di atas HET Zona 1 yang ditetapkan sebesar Rp 13.500 per kg.