
Di antara notifikasi yang tak pernah berhenti, tugas kuliah yang menumpuk, dan rutinitas yang seperti tak ada ujungnya, kita lupa berhenti sejenak. Bukan untuk rehat, tapi untuk mengingat: bahwa ada dua sosok yang jadi alasan mengapa kita bisa sampai sejauh ini—orang tua. Mereka tidak pernah minta dibalas. Tak pernah menagih apa pun. Tapi justru kepada mereka, kita paling sering gagal melakukan hal paling sederhana: mengucapkan terima kasih.
Cinta yang Tidak Pernah Ditagih
Cinta orang tua itu sunyi. Tidak banyak kata, tidak banyak permintaan. Mereka mencintai sebelum kita belajar bicara. Mereka memberi bahkan ketika mereka sendiri kekurangan.
Mereka tak menuntut, dan mungkin itu yang membuat kita abai. Karena mereka tidak marah saat kita lupa menelepon. Tidak protes ketika kita menunda pulang. Tidak kecewa terang-terangan ketika kita tak sempat bertanya, “Ayah, Ibu, sehat-sehat aja, kan?”
Padahal dalam Al-Qur’an, perintah berbuat baik pada orang tua datang sejajar dengan perintah menyembah Allah. Allah berfirman:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu…”Karena Mereka Selalu Ada, Kita Merasa Mereka Akan Terus Ada
Kita menunda-nunda kabar karena merasa mereka akan tetap menunggu. Kita anggap kehadiran mereka itu otomatis. Padahal waktu tidak akan menunggu.
Masih dalam ayat yang sama, Allah memperingatkan:
"Jika salah satu di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada mereka perkataan ‘ah’, dan janganlah engkau membentak mereka…”
Kata “uffin” dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan sebagai bentuk rasa tidak hormat paling ringan, bahkan hanya berupa keluhan kecil. Artinya, kalau keluhan pun sudah dianggap durhaka, bagaimana dengan sikap diam kita yang seringkali dingin?
Mereka Tidak Banyak Bicara, Tapi Mereka Merasa
Orang tua jarang mengeluh. Mereka menyimpan rindu dalam diam. Tidak pandai merangkai pesan panjang, apalagi mengekspresikan rasa kecewa.
Namun bukan berarti mereka tidak merasa.
Mereka hanya ingin didengarkan. Dianggap penting. Dihargai bukan karena mereka pernah besar, tapi karena mereka masih ada. Dalam sunyi mereka, mereka menunggu—bukan barang atau uang, tapi sapaan, perhatian, dan pelukan sederhana.
Seperti sabda Rasulullah SAW:
“Ridha Allah tergantung kepada ridha orang tua dan murka Allah tergantung kepada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi)
Jangan Tunggu Mereka Tiada
Kita tidak bisa membalas semua yang mereka beri. Tapi kita bisa hadir. Bisa menelepon. Bisa pulang. Bisa bertanya, “Sudah makan belum, Bu?” "Bisa sesekali ngajak ngobrol lebih lama, atau dengerin cerita mereka tanpa buru-buru."
Kita bisa mengucapkan terima kasih, selagi mereka masih bisa mendengarnya.
Karena nanti, saat mereka sudah tiada, semua hal sederhana itu akan terasa sangat mahal. Kita mungkin akan berdiri di pusara sambil berkata dalam hati, “Maaf, belum sempat bilang terima kasih.”
Orang tua tidak pernah menuntut apa-apa. Tapi bukan berarti mereka tidak ingin dicintai kembali. Jangan tunggu mereka pergi untuk menyesal. Ucapkanlah hari ini. Tunjukkanlah hari ini.
Karena cinta mereka bukan untuk ditukar, hanya untuk dihargai.