
Peneliti sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI) Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini menilai bahwa proyek hilirisasi nikel melalui pembangunan pabrik baterai Indonesia Battery Corporation (IBC) bersama CATL terbilang terlambat.
“Saya berpendapat ini sedikit terlambat. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Harusnya IBC lakukan dari beberapa tahun lalu,” ucap Prof. Evvy saat dijumpai di Jakarta Selatan belum lama ini.
Evvy melanjutkan, Vietnam sudah lebih maju dibanding Indonesia perihal hilirisasi ekosistem elektrifikasi kendaraan, khususnya dalam hal produksi mobil listrik. Padahal, Vietnam tidak memiliki sumber daya nikel sebagai material utama baterai NCM (Nikel Cobalt Manganese) atau disebut juga Lithium-ion.

Kemampuan Vietnam dalam merealisasikan kendaraan listrik nasional dengan komponen lokal yang tinggi mampu terselesaikan dalam tiga tahun, mulai dari pembuatan pabrik baterai hingga manufaktur kendaraan.
“Kalau belajar dari Vietnam, tiga tahun sudah selesai (pembangunan ekosistem produksi EV). Mereka produksi mobil baterainya dari mereka, mobil listriknya dibuat dari mereka. Padahal Vietnam enggak punya nikel,” jelasnya.
“Kalau Vietnam bisa, kenapa Indonesia enggak bisa? Indonesia kan negaranya lebih besar. Kita penghasil nikel terbesar di dunia,” imbuh Evvy.
Terlalu Banyak Perizinan
Adapun perbandingan antara Vietnam dan Indonesia terkait perizinan. Menurut Evvy, perizinan investasi di Indonesia memerlukan koordinasi dengan banyak pihak.
Mulai dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM untuk aktivitas tambang, Kementerian Perindustrian untuk mendirikan pabrik baterai, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) perihal daur ulang material.
“Kita terlalu banyak aturan yang dikeluarkan di setiap kementerian. Saran saya, seharusnya ada kementerian koordinasi yang ngurusin baterai ini. Sekarang sudah ada Satgas Hilirisasi, itu sudah bagus sebagai yang memimpin semuanya,” terang Prof. Evvy.

Ia khawatir apabila terlalu banyak pihak yang terlibat untuk perizinan, maka investor berpotensi untuk mundur. Sebab, akan memakan biaya lebih banyak daripada hanya melalui satu pintu.
“Harus satu komandonya. Kalau perizinan sulit dan terlalu banyak tempat, nanti investor akan mundur. Karena investor concern soal cost. Misal 10 meja, artinya biayanya juga 10. Investor rugi. Makanya akhirnya mereka lari ke Vietnam,” katanya.
“Indonesia harus belajar dari Vietnam. Itu kenyataan ya. Itu kenyataan,” tutup Evvy tegas.
Saat ini di Indonesia sudah beredar mobil listrik asal Vietnam yakni VinFast, produsen EV besutan VinGroup. Bahkan, perusahaan taksi XanhSM yang menggunakan produk VinFast sudah beroperasi di Tanah Air.
Prof. Evvy menyampaikan harapannya agar Indonesia bisa memiliki industri elektrifikasi dari hulu ke hilir, mulai dari produksi baterai hingga menjadi produk kendaraan listrik. Sehingga, tercipta mobil listrik Indonesia, pakai baterai Indonesia, dan material dari Indonesia.