
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI resmi mengesahkan Ricky Perdana Gozali sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2025–2030. Keputusan ini diambil dalam Rapat Paripurna yang digelar di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (3/7), setelah melalui serangkaian proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI DPR RI.
Pengesahan Ricky dilakukan setelah Pimpinan Sidang Paripurna Puan Maharani menerima laporan hasil uji kelayakan dan kepatutan dari Komisi XI DPR RI. Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menyampaikan, seluruh anggota Komisi XI secara musyawarah mufakat sepakat memilih Ricky sebagai Deputi Gubernur BI yang baru.
"Apakah laporan Komisi XI DPR RI terhadap hasil uji kelayakan fit and proper test calon Deputi Gubernur BI dapat disetujui?" ujar Puan disertai jawaban setuju dan ketuk palu pada rapat Kamis (3/7).
Dalam kesempatan itu, Misbakhun menjelaskan bahwa Ricky dinilai memiliki pengalaman panjang, kapasitas kepemimpinan yang mumpuni, serta visi strategis yang sejalan dengan tantangan Bank Indonesia ke depan. Dalam uji kepatutan dan kelayakan, Ricky dinilai mampu menunjukkan kemampuan profesional, keahlian, dan pemahaman mendalam mengenai peran dan fungsi BI.
"Komisi XI menetapkan Ricky Perdana Gozali sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia periode 2025-2030 secara musyawarah mufakat," tegas Misbakhun.

Sebelum pengesahan di Paripurna, Ricky telah mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR RI pada Selasa (1/7). Dalam kesempatan itu, Ricky memaparkan visinya untuk mendorong tercapainya ekonomi nasional yang berdaya tahan, tumbuh kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya sinergi kebijakan terintegrasi untuk mendukung agenda Indonesia Maju.
"Visi saya di dalam paparan ini adalah ingin tercapainya ekonomi nasional yang berdaya tahan, tumbuh kuat, inklusif, dan berkelanjutan, melalui sinergi dalam perumusan dan implementasi kebijakan terintegrasi menuju Indonesia Maju," kata Ricky.
Sebagai strategi, Ricky memperkenalkan konsep “Bersimponi” atau pendekatan 3 Plus 5. Strategi ini menitikberatkan pada pembangunan tiga kondisi ekonomi berdaya tahan, bersama tumbuh, dan berkelanjutan dengan memperkuat lima peran strategis kantor perwakilan Bank Indonesia.
Dalam penutup paparannya, Ricky menegaskan kesiapannya untuk mengemban amanah jika diberikan kepercayaan sebagai Deputi Gubernur BI.
"Jika saya mendapat dukungan dan dipercaya mengembangkan amanah oleh pimpinan dan anggota Dewan Terhormat sebagai anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia, saya siap untuk mewujudkan visi-misi saya yang sejalan dan mendukung program Asta Cita guna mencapai Indonesia Maju," ucap Ricky.

Profil Ricky Gozali
Ricky merupakan lulusan Program Magister Manajemen Universitas Indonesia saat ini menjabat sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia untuk wilayah DKI Jakarta.
Sebelum menduduki posisinya saat ini, Ricky sempat memimpin Kantor Perwakilan BI di Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur.
Karier Ricky di BI dimulai sejak tahun 1995, saat ia pertama kali bertugas sebagai staf di kantor perwakilan Semarang, Jawa Tengah. Artinya, ia telah mengabdi selama hampir tiga dekade di lembaga tersebut.
Ricky juga pernah mengemban tanggung jawab dalam pengelolaan portofolio cadangan devisa milik negara. Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Divisi Manajemen Valuta Asing serta Kepala Divisi Analisis Pasar Internasional.
Tak hanya itu, Ricky sempat dipercaya memimpin Group Kebijakan Internasional dan Group Hubungan Internasional di BI.
Mengutip Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2024, Ricky tercatat memiliki total harta kekayaan berjumlah Rp. 6.396.965.842 atau Rp 6,39 miliar.
Mayoritas harta kekayaan Ricky berasal dari kepemilikan tanah dan bangunan senilai total Rp 5.400.000.000. Rinciannya meliputi aset berupa tanah dan bangunan seluas 355 m²/250 m² di Kota Semarang senilai Rp 2.000.000.000, tanah dan bangunan 36 m²/36 m² di Jakarta Selatan senilai Rp 400.000.000, serta properti di Bekasi seluas 216 m²/270 m² dengan nilai Rp 3.000.000.000.
Kemudian untuk harta transportasi, Ricky tercatat memiliki sejumlah kendaraan dengan nilai total Rp 1.059.250.000. Koleksinya terdiri dari tiga unit sepeda motor yaitu Honda Vario (2016), Yamaha Xeon (2015), dan Honda Blade (2014) yang masing-masing senilai Rp 11.000.000, Rp 4.500.000 dan Rp 3.750.000.
Ia juga memiliki tiga unit mobil, yaitu Honda CR-V (2019) senilai Rp 350.000.000, Toyota Altis (2022) senilai Rp 400.000.000, dan Toyota Yaris (2023) senilai Rp 290.000.000.
Selain itu, laporan menyatakan Ricky memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp 682.500.000 dan kas atau setara kas sebesar Rp 383.246.123. Laporan juga mencatat utang sebesar Rp 1.128.030.281, sehingga total kekayaan bersihnya tercatat sebesar Rp 6.396.965.842.