
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berencana memulihkan ekosistem Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau dengan menanam beberapa jenis bibit tanaman yang cepat tumbuh.
TNTN ini tengah ramai diperbincangkan karena ditinggali warga Desa Toro Jaya, Lubuk Kembang Bunga, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Kawasan yang jadi habitat gajah itu justru diduduki warga dan bahkwan jadi lahan perkebunan sawit.
“Kementerian kehutanan juga telah menyiapkan rencana tindak lanjut, berupa pertama pemulihan ekosistem Taman Nasional Tesso Nilo dengan melakukan penanaman kurang lebih dari 8.000 hektare dengan bibit tipe fast growing, cepat tumbuh, bibit Jabon, Ketapang, Pulai,” ujar Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni saat rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Rabu (2/7).
“Termasuk melakukan penggeseran lokasi rehab DAS (Daerah Aliran Sungai) yang menjadi kewajiban perusahaan-perusahaan tambang,” tambahnya.
Di dalam lampiran presentasi yang ditampilkan oleh Raja Juli, disebutkan bahwa anggaran yang disiapkan adalah Rp 136 miliar. Akan ada 5 juta bibit yang ditanam dengan skema 625 bibit per hektare.
Selain itu, Kemenhut akan mengambil sejumlah langkah untuk TNTN ini, seperti pembangunan pos jaga hingga patroli gabungan.
“Kedua, pengamanan kawasan dengan pembangunan pos jaga dan patroli gabungan. Ketiga, penegasan batas kawasan dengan pembuatan parit batas dan penandaan batas setiap 100 meter,” ucapnya.
Sebelumnya, Raja Juli menyebut sudah memusnahkan 12,5 hektare lahan kebun sawit yang ada di TNTN.
“Hasil dari kegiatan penertiban kawasan di Taman Tesso Nilo ini, yaitu tim telah melakukan pemusnahan kebun sawit seluas 12,5 hektare, pembongkaran pondok, pemasangan plang-papan peringatan di 28 lokasi,” ujar dia
Penertiban TNTN sempat menemui kendala karena warga yang menempati menolak untuk direlokasi. Kini, para warga itu diberi waktu tiga bulan untuk pindah dari kawasan hutan lindung itu.