Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Jawa Timur melaporkan 17 orang meninggal dunia di Kabupaten Sumenep periode Februari hingga Agustus 2025. Setelah dilakukan penyelidikan, mayoritas yang meninggal tidak diimunisasi.
"Terdapat 17 kasus kematian dengan mayoritas tidak memiliki riwayat diimunisasi," tutur Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman dalam pesan tertulis yang diterima Health Liputan6.com pada Sabtu, 23 Agustus 2025.
Untuk diketahui upaya pencegahan campak bisa dilakukan lewat imunisasi untuk merangsang tubuh untuk membentuk antibodi pelindung. Vaksin yang digunakan vaksin MR (campak-rubella) atau MMR (campak-gondongan-rubella).
Setelah mendapatkan temuan ini, Kemenkes berkoordinasi dengan Dinkes Sumenep, Dinkes Jatim, mitra setempat untuk melakukan penanganan bersama. Mulai dari penyelidikan epidemiologi hingga ketersediaan vaksin untuk pelaksanaan imunisasi massal.
"Termasuk mengirimkan tim untuk melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mencari sumber penularan dan kontak erat kasus serta mendampingi dinkes untuk melakukan survei cepat menentukan target sasaran Outbreak Response Immunization (ORI)," terang Aji.
Outbreak Response Immunization atau imunisasi massal bakal digelar di Kabupaten Sumenep pada 25 Agustus 2025 hingga 12 September 2025. Target sasaran adalah anak usia 9 bulan hingga enam tahun.
Selain imunisasi massal, dinas kesehatan bersama fasilitas layanan kesehatan melakukan penguatan imunisasi rutin dan melengkapi status imunisasi bagi yang belum dan tidak lengkap.
Lalu, dilakukan pemberian vitamin A untuk mencegah penularan sakit berat.
Para nakes di Sumenep juga kembali melakukan sosialisai ke masyarakat tentang kewaspadaan Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi khususnya campak untuk setiap anak balita.