Puluhan kertas catatan tempel berwarna-warni menghiasi dinding di sebuah ruangan Apple Developer Academy di Park23, Kuta, Bali, pada Jumat (29/8). “Wall of hiccups”, demikian judul catatan itu.
“Itu adalah papan keluh kesah atau curhatan. Di sini kami membimbing layaknya teman curhat,” kata Adhella Subalie, salah satu mentor di Apple Developer Academy, Bali, menceritakan kedekatannya dengan para pelajar.
Menurutnya, gaya pembelajaran dengan melakukan pendekatan, merupakan salah satu cara agar pelajar bisa menemukan jati diri dalam mewujudkan cita-cita. Adhella rela mendengarkan curhat persoalan pribadi para pelajar demi meringankan beban mereka, dengan harapan, pelajar bisa fokus mengembangkan keahliannya di Apple Developer Academy.
Adhella baru empat bulan menjadi mentor. Ia pernah membuat buku panduan bagi pelajar untuk membantu mengukur tingkat progres pembelajaran dan pengembangan proyek aplikasi saat diterpa masalah personal. Hasil paduannya berbuah manis sehingga murid merasa punya harapan dalam hidup karena berhasil mengembangkan aplikasi.
"Peran mentor gak cuma sekadar mengasah keahlian teknis kayak design dan coding. Kalau itu, pasti diajarkan. Kami juga masuk ke level individu untuk bantu mereka, mengenali diri mereka, mereka mau passion ke mana. Bahkan setelah lulus akademi kami tuntun sampai punya employability rate, diterima industri dengan baik," sambungnya.
Adhella menekankan kepada pelajar bahwa perjalanan menempuh pendidikan selalu membutuhkan proses panjang, kesabaran, kerja keras, dan disiplin dalam meraih profesionalisme. Adhella pernah bekerja beberapa tahun sebagai engineer Traveloka. Adhella juga pernah menempuh pendidikan di Apple Developer Academy.
Mentor lainnya, John Keating, mengingatkan agar produk teknologi yang diciptakan pelajar bisa memberi dampak sosial. John menciptakan sebuah aplikasi bernama Aura, membantu penderita epilepsi menginformasikan orang di sekitarnya atau pengasuh ketika serangan kejang akan terjadi.
Di dalam aplikasi ini tersedia panduan tentang penanganan darurat penderita epilepsi dalam bentuk audio dan format lainnya. John menciptakan aplikasi ini karena saudara kembarnya menderita epilepsi.
"Kami berharap apa yang kami bikin ini sebenarnya punya dampak. Tak perlu untuk orang yang jauh, tapi orang yang dekat dengan kita, dan saya selalu mengingatkan hal itu," sambungnya.
Laki-laki yang sebelumnya bekerja di industri pariwisata ini, juga menekankan, agar pelajar tak perlu mengejar pencapaian dalam bentuk tingkatan. Mentor justru akan memberikan tanggapan atau komentar terhadap hasil kerja pelajar demi perkembangan yang positif.
"Kami di sini gak ada grading, tapi cenderung pada feedback agar peserta didik berkembang. Apa yang dihasilkan oleh mereka memiliki dampak nyata agar benar-benar bisa dipakai (oleh banyak orang)," katanya.
Metode pengajaran yang diterapkan Read Entire Article