Metode pembayaran paylater merupakan alat multifungsi yang menggabungkan kepraktisan dompet digital dan fleksibilitas kartu kredit.
Ya, layaknya pisau lipat pecinta alam, di satu sisi, paylater bisa mempermudah proses belanja tanpa repot membawa uang tunai atau khawatir soal saldo tabungan. Namun, platform ini juga harus digunakan dengan bijak agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Fenomena menggunakan paylater pun kian populer di Indonesia terutama di kalangan muda yang gemar belanja online. Lalu, kenapa metode ini begitu populer? Apa yang membuatnya semakin dipilih dibandingkan metode lainnya?
1. Kemudahan Akses Layanan Keuangan
Paylater jadi solusi bagi masyarakat yang belum memiliki akses ke kartu kredit. Pasalnya, tidak semua orang bisa mendapatkan kartu kredit karena persyaratannya yang cukup ketat.
Calon pengguna perlu memberi info soal minimal pendapatan bulanan dan riwayat kredit yang baik. Layanan paylater pun cenderung lebih mudah diakses karena syaratnya lebih ringan: hanya memerlukan KTP dan akun belanja di e-commerce.
Dengan hadirnya paylater, banyak konsumen merasakan manfaat pembayaran cicilan tanpa harus melalui proses yang rumit tersebut. Ini juga memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan penjualan karena konsumen lebih nyaman bertransaksi dengan paylater.
Contohnya Kredivo, salah satu penyedia layanan paylater. Mereka bahkan menawarkan fitur cicilan bunga rendah mulai dari 1,99 persen saja per bulan dengan limit hingga Rp 50 juta untuk member Premium.
Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen yang ingin membeli produk premium dengan cara bayar bertahap. Terlebih, tenor yang ditawarkan pun sangat fleksibel hingga 24 bulan, khusus member Premium.
2. Peningkatan Konsumsi Barang dan Jasa
Paylater telah membuka pintu bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun gaya hidup dengan cara yang lebih fleksibel. Misalnya, seseorang ingin membeli iPhone terbaru tetapi tidak memiliki dana cukup saat itu. Ia dapat memanfaatkan opsi cicilan tanpa kartu kredit. Dengan begitu, keinginan untuk memiliki barang impian tidak lagi tertunda.
Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan tersendiri. Beberapa konsumen mungkin terjebak dalam pla belanja impulsif karena merasa tidak langsung membayar.