
KOMPLEKS Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) di Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, ludes dilalap si jago merah pada Sabtu (30/8) dini hari.
Dua jam sebelumnya kebakaran juga melanda DPRD Kota Makassar yang mengakibatkan kerugian material yang sangat besar, mencapai ratusan miliar rupiah, serta kehilangan dokumen pemerintahan yang tak ternilai harganya.
Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Jufri Rahman, menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memastikan nilai kerugian fisik akibat kebakaran ini. “Itu aset besar dan bersejarah. Kita belum bisa taksir. Nanti akan kita libatkan tim appraisal independen, ujarnya.
Jufri menekankan bahwa meski kerugian fisik dapat ditaksir di kemudian hari, kehilangan terbesar justru pada dokumen-dokumen pemerintahan yang tersimpan di tiga gedung yang terbakar. “Itu yang tak ternilai,” tandasnya, Minggu (31/8).
Berdasarkan pantauan di lokasi, tiga gedung utama di kompleks parlemen provinsi mengalami kerusakan parah dan tidak dapat difungsikan, yaitu gedung utama (Konstruksi 1978), yang mengalami kerusakan sekitar 74%. Gedung ini digunakan untuk sidang paripurna, ruang 9 fraksi, dan badan pekerja parlemen. Kerusakan terparah terjadi di lantai dasar dan ruang rapat.
Lalu gedung sekretariat dan staf di sisi utara), rusak hingga 90%. Gedung inilah yang menjadi penyimpan utama dokumen fisik parlemen dan pemerintahan.
Dan tawer ower 10 Lantai, yang dibangun 2007), rusak di 3 lantainya, dengan kerusakan terparah di lobi dasar, ruang rapat komisi, dan musalla lantai 2.
Tiga rumah jabatan wakil ketua DPRD yang berbatasan dengan Kompleks Pengadilan Tinggi Sulsel dilaporkan hanya mengalami kerusakan minor.
Sementara itu, kebakaran yang juga melanda gedung DPRD Kota Makassar mengakibatkan kerugian materiil yang sangat besar. Berdasarkan rapid assessment tim di lapangan, kerugian sementara diperkirakan mencapai Rp253,4 miliar.
Penanggung Jawab Laporan Assessment, Yuli Rachmat, Yuli Rachmat, menyebut itu terdiri dari kendaraan roda empat yang hangus terbakar sebanyak 67 unit dengan estimasi harga per unit Rp200 juta, sehingga total kerugian dari mobil mencapai Rp13,4 miliar.
Untuk kendaraan roda dua, sebanyak 15 unit musnah dengan estimasi kerugian Rp 240 juta. "Total kerugian sementara berdasarkan hasil pengamatan di lapangan sebesar Rp253.400.000.000. Angka ini masih sangat sementara dan kemungkinan dapat membengkak," lanjut Yuli, Sabtu (30/8).
Selain kendaraan, gedung utama DPRD yang terdiri dari empat lantai dengan perkiraan luas total 1.600 meter persegi, masing-masing lantai 20x20 m² juga mengalami kerusakan parah.
Namun, tim assessment mengakui masih adanya ketidakpastian dalam penghitungan, terutama pada nilai aktual kendaraan dinas yang bisa lebih tinggi dari asumsi, serta spesifikasi detail dan nilai bangunan.
Yang menjadi tantangan utama adalah belum terhitungnya kerugian dari aset lain. "Alat dan perlengkapan kantor tidak dapat diasumsikan karena fisik tidak dapat dikenali dan akses ke ruangan sangat terbatas dikarenakan bangunan rentan keruntuhan," tukas Yuli. (H-1)