REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Era digital mengubah cara kita berinteraksi, bekerja, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berbagai aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara langsung seperti membeli makanan atau berbelanja kebutuhan pokok, kini bisa diselesaikan hanya dengan sentuhan jari melalui platform online.
Kemudahan ini, sayangnya, membawa dampak negatif yang signifikan bagi kesehatan. Gaya hidup pasif yang semakin dominan menyebabkan menurunnya aktivitas fisik, yang pada gilirannya memicu berbagai masalah kesehatan seperti mudah sakit, batuk, dan gangguan paru-paru.
Salah satu cara menyenangkan untuk melawan gaya hidup pasif adalah dengan dance. Tidak hanya sekadar hiburan, dance kini menjadi pilihan olahraga alternatif yang digemari generasi Z. Gen Z cenderung kurang menyukai rutinitas olahraga yang kaku sehingga lebih memilih aktivitas fisik yang seru dan kreatif seperti zumba, yoga, olahraga berbasis game (exergaming), hingga dance workout.
PR Group Manager PT Bintang Toedjoe Andry Mahyudi mengatakan dance bukan hanya sekadar tarian tapi juga bisa menyehatkan tubuh. “Dance bukan hanya menyehatkan tapi juga bisa meningkatkan fungsi paru-paru hingga 15 persen. Cukup konsisten melakukan dance selama 15 menit setiap hari dapat menjaga kesehatan paru-paru, meningkatkan VO2max, sekaligus membantu mencegah batuk,” kata dia.
Hal ini juga didukung oleh dokter olahraga sekaligus health influencer dr Andhika Raspati, SpKO. Menurutnya, dance merupakan aktivitas fisik yang efektif untuk menjaga kebugaran tubuh. “Secara ilmiah, dance bisa membuat paru-paru bekerja lebih optimal dalam menyerap oksigen. Fungsi pernapasan jadi lebih baik, tubuh tidak cepat lelah, dan daya tahan tubuh meningkat sehingga tidak gampang sakit,” ujarnya.
Dr Andhika mengatakan dance juga berpengaruh terhadap sistem imun tubuh. “Aktivitas ini membantu sel darah putih dan antibodi bekerja lebih efektif, sehingga tubuh lebih kuat melawan penyakit, termasuk gejala batuk dan flu. WHO sendiri menyarankan aktivitas fisik intensitas tinggi minimal 75 menit dalam sepekan, dan dance bisa jadi alternatif yang seru selain lari atau bersepeda,” katanya.
Namun, gerakan dengan intensitas yang tinggi tetap harus dilakukan dengan hati-hati dan menyesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. “Tapi harus hati-hati, yang namanya olahraga high intensity selalu ada risiko. Gerakan dance yang atraktif, kalau dilakukan tanpa pengalaman atau pemanasan yang cukup, bisa menyebabkan jatuh atau cedera,” jelasnya.
Dari sisi pengalaman pribadi, musisi sekaligus dancer Indahkus juga merasakan manfaat kesehatan dari dance. Ia mengungkapkan bahwa dance membuat tubuhnya lebih sehat, terutama dalam mengatur pernapasan. “Aku punya alergi rhinitis, tapi sejak aktif menari, kondisi pernapasan jadi jauh lebih baik. Dance bantu aku buat ngatur napas dan juga jaga stamina” ujarnya.