Kesantunan Berbahasa adalah Etika Dasar Komunikasi Politik

4 hours ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Kesantunan Berbahasa adalah Etika Dasar Komunikasi Politik Ilustrasi berbicara(Freepik)

DOSEN Program Studi Doktor Linguistik Terapan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Miftahulkhairah Anwar, menegaskan pejabat publik harus menyadari bahwa bahasa adalah instrumen kekuasaan. Seorang pemimpin mampu menenangkan massa dengan tutur kata yang santun, atau sebaliknya menyulut emosi dengan bahasa yang kasar.

“Ini berarti bahasa adalah kekuatan utama menjaga kehormatan dan membangun kepercayaan. Ketika pejabat menggunakan kata-kata kasar, tidak empatik, atau merendahkan, maka harga diri dan perasaan kolektif masyarakat akan terluka. Oleh karena itu, pemicu yang memperbesar eskalasi demonstrasi bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga ketidaksantunan berbahasa yang dipertontonkan secara nyata oleh pejabat publik,” ungkapnya kepada Media Indonesia, Minggu (31/8). 

Perempuan yang akrab disapa Hera itu menjelaskan, merujuk pada teori Culpeper, ada lima gaya tutur pejabat publik dalam kasus ini yang berpotensi mengundang gelombang protes. Pertama, tuturan kasar secara langsung (Bald on record impoliteness), misalnya menyebut pengkritik DPR sebagai ‘orang tolol sedunia’. Kedua, merendahkan harga diri orang lain (positive impoliteness), seperti komentar membela tunjangan lima puluh juta rupiah di tengah sulitnya ekonomi rakyat. 

Ketiga, membatasi kebebasan (negative impoliteness) ditunjukkan oleh kritik dan aspirasi rakyat yang tidak didengar. Keempat, sarkasme atau sindiran (sarcasm or mock politeness) tergambar dari parodi joget yang seakan menertawakan penderitaan rakyat. Kelima, diam ketika seharusnya menunjukkan empati (withholdpoliteness ) tecermin ketika pejabat publik memilih diam atau lamban merespons tragedi, padahal publik sangat menanti ucapan empati. 

“Kasus ini mengajari kita bahwa ucapan kasar, sindiran, atau mendiamkan di saat krisis justru menjadi bahan bakar amarah publik. Para pejabat harus sadar betul bahwa kesantunan berbahasa adalah etika dasar komunikasi politik,” ungkap Hera. 

Menurutnya, bahasa pejabat publik seharusnya menjadi teladan, bukan pemicu kemarahan. Oleh karena itu, ada lima hal penting yang perlu dijaga. Pertama, hindari ucapan kasar yang bisa melukai harga diri dan merendahkan martabat rakyat. Kedua, gunakan bahasa empatik agar masyarakat merasa dihargai, dipahami dan tempatkan diri pada posisi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan. 

Ketiga, hargai kebebasan rakyat untuk menyuarakan kritik dengan membalasnya secara bijak, jangan membalas dengan bahasa ancaman atau menantang. Keempat, hindari sarkasme atau candaan yang tidak pada tempatnya karena humor di atas penderitaan hanya akan menyinggung hati rakyat. Keresahan publik bukan bahan lelucon. Kelima, segeralah menunjukkan simpati saat terjadi tragedi, berusaha untuk segera memenuhi tuntutan rakyat karena diam atau lambat merespons hanya menambah kesan abai dan kekecewaan rakyat.

“Santun berbahasa bukan sekadar wacana etika, melainkan modal sosial dan politik untuk menjaga kepercayaan publik, memperkuat legitimasi kepemimpinan, dan merawat demokrasi. Satu kata santun bisa menyejukkan, satu ucapan empatik bisa meredakan gejolak, dan satu kalimat bijak mampu mengembalikan kepercayaan rakyat,” tutur Hera. 
 
Secara terpisah, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), Mohammad Umar Muslim, membenarkan bahwa salah satu pemicu aksi demonstrasi adalah buruknya kesantunan berbahasa pejabat khususnya sejumlah anggota DPR RI. 

“Mereka terkesan main-main, berjoget-joget, sombong, memandang lebih tinggi daripada rakyat, dan arogan dengan membodoh-bodohkan rakyat,” urai Umar. 

Sebagai wakil rakyat, menurutnya, mereka semestinya menanggapi aspirasi masyarakat dengan bahasa dan sikap yang santun. “Tentunya, kesantunan ini juga harus dibarengi dengan dialog dan usaha/kerja keras untuk mencari pemecahan masalah yang membebani masyarakat secara bijak. Kalau tidak, kekecewaan masyarakat akan terus berlanjut dan terus memicu demonstrasi,” tukasnya.(M-2)

Read Entire Article